|
|
![]() |
![]() |
|
||||||||||||||||||||||
|
|
|
||||||||||||||||||||||||
|
|
|
||||||||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||||
home | search
|
|
|
|||||||||||||||||||||||
|
Go to Spektrum >> Counter: 1
|
|
Negara Maju Harus Segera Penuhi Kewajiban Lingkungan
By Republika Newsroom JAKARTA -- Negara-negara maju diharapkan segera memenuhi kewajibannya kepada lingkungan, sesuai dengan protocol Kyoto dan Bali Action Plan (BAP). Termasuk dengan menetapkan target penurunan emisi gas rumah kaca yang ambisius. Hal ini, menurutnya, terbukti dari negosiasi perubahan iklim yang berlangsung di Bonn, Jerman pada 29 Maret hingga 8 April 2009 silam. “Negosiasi tersebut berakhir tanpa hasil yang signifikan,” katanya. Pernyataan tersebut didukung fakta bahwa hingga negosiasi tersebut berakhir, belum juga ada kesepakatan terkait target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) oleh Negara-negara maju setelah 2012. Padahal, tambahnya, semua pihak mengharapkan hasil signifikan untuk mencapai kesepakatan di perundingan selanjutnya yang akan digelar di Kopenhagen , pada Desember 2009 mendatang. Isi dalam protokol Kyoto pada 2008 adalah Negara-negara maju memiliki kewajiban untuk menurunkan emisi GRK dengan target yang disepakati sebesar 5,2 persen pada 2012. Masalahnya adalah untuk penurunan Negara-negara maju tersebut belum mau memastikan target penurunan emisi setelah 2012, sebelum ada kepastian dari Amerika Serikat (Negara maju yang hingga kini belum meratifikasi protocol kyoto). Bahkan Negara- Negara maju malah menyatakan bahwa Negara-negara berkembang pun perlu menurunkan emisi GRK nya, terutama Negara-negara yang sedang melakukan pembangunan seta memanfaatkan energy secara besar-besaran. “Contohnya India dan China,” kata Gustya. Hal ini, menurutnya, menimbulkan penolakan keras dari Negara-negara berkembang tersebut. Salah satunya, tambah Gustya, karena Negara maju belm menunjukan keseriusannya untuk memberikan bantuan pendanaan baik dalam bentuk kegiatan mitigasi dalam negeri maupun yang terkena dampak perubahan iklim. Karenanya, terkait juga dengan hari bumi yang jatuh pada Rabu (22/4), pelangi Indonesia menyerukan agar Negara-negara maju memperlihatkan kemauan dan kepemimpinan politis mereka dalam memenuhi kewajibannya. “Semua untuk mencapai kesepakatan global di Kopenhagen yang benar-benar bermanfaat bagi semua pihkak dalam menghadapi masalah perubahan iklim,” katanya. Di lain pihak, katanya, Negara berkembang pun perlu berperan serta menujukan kemauan dan kepemimpinan politis untuk menerapkan BAP. “Antara lain dengang melakukan aksi-aksi sukarela di dalam negeri untuk menurunkan emisi GRK,” katanya. -C88/ahi
|
|
||||||||||||||||||||||
| archive... | |||||||||||||||||||||||||
|
For more information, contact info@pelangi.or.id. For general purpose, please use pelangi@pelangi.or.id. Copyright © 2010 Pelangi Indonesia | All information contained on this site may not be used for commercial purposes. |
|||||||||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||