Thursday, 23 February 2012

Home » News from Pelangi » Petani Butuh Pendampingan
09 April 2011 - 09:06:29 WIB
Petani Butuh Pendampingan
Posted by : Administrator
Category: News from Pelangi - View : 1009


Sabtu,
09 April 2011

Jakarta, Kompas - Petani berharap kalangan ilmuwan mendampingi mereka menghadapi perubahan iklim dan lingkungan. Saat ini banyak petani yang berjuang sendiri menyiasati perubahan iklim, misalnya dengan menyeleksi benih padi untuk lahan berair asin.
”Kami mencoba-coba sendiri menanam padi di lahan berair asin, tetapi belum ada penelitian ilmiahnya. Hasilnya juga belum memuaskan. Kalau ada ilmuwan yang mendampingi, usaha kami menghadapi perubahan lingkungan bisa lebih mudah,” kata Zaenudin, Ketua Kelompok Tani Sumber Mulya, Cantigi Kulon, Indramayu, Jawa Barat, Jumat (8/4).

Menurut Zaenudin, sejak tahun 2008, anggota kelompok taninya telah bereksperimen menyeleksi bibit padi yang cocok ditanam di sawah desanya yang telah menjadi asin sejak 10 tahun terakhir. Setahun terakhir kegiatan petani di Cantigi dibantu oleh Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI) dan Yayasan Kehati.

”Ada juga bantuan bibit padi dari dosen di IPB (Institut Pertanian Bogor), yaitu jenis kalimantan, namun hasilnya belum memuaskan. Sepertinya tidak cocok dengan kondisi di Cantigi,” kata Zaenudin.

Dia berharap, akademisi turun langsung ke lapangan dengan memberi pendampingan lebih intensif, terutama bagaimana menghadapi hama, perubahan musim tanam, dan intrusi air laut. Menurut Zaenudin, penyuluh lapangan dari pemerintah juga tidak banyak berperan membantu petani menghadapi perubahan iklim.

Laboratorium lapang

Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB Arif Satria mengakui, petani masih dibiarkan sendirian menghadapi perubahan iklim. Petani, menurut dia, sudah selangkah lebih maju dibandingkan akademisi dan pemerintah dalam menyiasati perubahan iklim. Namun, petani sebenarnya masih membutuhkan bantuan.

”Seharusnya ada laboratorium lapang yang menjadi ajang kolaborasi antara akademisi dan petani. Laboratorium ini bisa menjadi ajang pertemuan ilmu pengetahuan akademisi dengan pengetahuan lokal yang dimiliki petani,” kata dia.

Arif menambahkan, IPB sudah menemukan benih padi tahan air asin. Namun, saat ini belum disertifikasi sehingga belum bisa disebarkan ke petani. ”Benih yang akan disertifikasi harus diuji mutu lokasi di sejumlah tempat, sedangkan biaya uji lokasi mahal sekali. Satu lokasi bisa Rp 500 juta,” kata dia.

Padahal, di satu sisi, saat ini banyak petani di pesisir yang membutuhkan benih padi yang cocok ditanam di sawah yang telah terintrusi air asin. ”Pemerintah semestinya bisa membiayai berbagai uji lokasi. Selama ini dialog belum maksimal dengan pemerintah,” ujar Arif.

Arif mengatakan, akan mendorong kembali ide soal konsorsium riset pangan yang mewadahi pemerintah, akademisi, dan LSM. ”Konsorsium ini bisa menjadi wadah bagi peneliti untuk menyebarkan temuannya. Di sisi lain, petani bisa terus mengembangkan bank benih sehingga bisa menghasilkan benih unggul yang cocok untuk wilayahnya,” kata dia. (AIK)

 

Sumber:Kompas




0 Comment :



Comment Form :
Name :
Website :
Comment
 
 (Fill 6 codes)

 

Workshop "Community Information and Awareness Racing on Benefit of Green Energy Concept in Tourism Sector"
15 June 2011 - 16 June 2011
08.00 - 17.00 WIB
Workshop as next action of inauguration meeting.  
Pangandaran
Inauguration Meeting
13 June 2011 - 13 June 2011
12.00 - 17.00 WIB
Inaguration Meeting STREAM
Ballroom BUDPAR


STREAM

AEMAS


168980

Visitor Today : 30
Total Visitor : 28894
Hits Today : 108
Total Hits : 168980
Online Visitor : 2

Pelangi's Corner

  • Mari membuang sampah pada tempatnya
  • Mari gunakan transportasi umum untuk mengurangi perubahan iklim
  • Sama - sama memperhatikan asap pembuangan untuk mengurangi efek rumah kaca
  • Hemat dalam penggunaan listrik
  • Cari energi alternatif yang ramah lingkungan


Move your mouse to scroll Our Links