09 April 2011 - 09:06:29 WIBPetani Butuh Pendampingan
Posted by : Administrator
Category: News from Pelangi - View : 1009
Sabtu,
09 April 2011
Jakarta, Kompas - Petani berharap kalangan ilmuwan
mendampingi mereka menghadapi perubahan iklim dan lingkungan. Saat ini
banyak petani yang berjuang sendiri menyiasati perubahan iklim, misalnya
dengan menyeleksi benih padi untuk lahan berair asin.
”Kami mencoba-coba sendiri menanam padi di lahan berair asin, tetapi
belum ada penelitian ilmiahnya. Hasilnya juga belum memuaskan. Kalau ada
ilmuwan yang mendampingi, usaha kami menghadapi perubahan lingkungan
bisa lebih mudah,” kata Zaenudin, Ketua Kelompok Tani Sumber Mulya,
Cantigi Kulon, Indramayu, Jawa Barat, Jumat (8/4).
Menurut Zaenudin, sejak tahun 2008, anggota kelompok taninya telah bereksperimen menyeleksi bibit padi yang cocok ditanam di sawah desanya yang telah menjadi asin sejak 10 tahun terakhir. Setahun terakhir kegiatan petani di Cantigi dibantu oleh Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI) dan Yayasan Kehati.
”Ada juga bantuan bibit padi dari dosen di IPB (Institut Pertanian Bogor), yaitu jenis kalimantan, namun hasilnya belum memuaskan. Sepertinya tidak cocok dengan kondisi di Cantigi,” kata Zaenudin.
Dia berharap, akademisi turun langsung ke lapangan dengan memberi pendampingan lebih intensif, terutama bagaimana menghadapi hama, perubahan musim tanam, dan intrusi air laut. Menurut Zaenudin, penyuluh lapangan dari pemerintah juga tidak banyak berperan membantu petani menghadapi perubahan iklim.
Laboratorium lapang
Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB Arif Satria mengakui, petani masih dibiarkan sendirian menghadapi perubahan iklim. Petani, menurut dia, sudah selangkah lebih maju dibandingkan akademisi dan pemerintah dalam menyiasati perubahan iklim. Namun, petani sebenarnya masih membutuhkan bantuan.
”Seharusnya ada laboratorium lapang yang menjadi ajang kolaborasi antara akademisi dan petani. Laboratorium ini bisa menjadi ajang pertemuan ilmu pengetahuan akademisi dengan pengetahuan lokal yang dimiliki petani,” kata dia.
Arif menambahkan, IPB sudah menemukan benih padi tahan air asin. Namun, saat ini belum disertifikasi sehingga belum bisa disebarkan ke petani. ”Benih yang akan disertifikasi harus diuji mutu lokasi di sejumlah tempat, sedangkan biaya uji lokasi mahal sekali. Satu lokasi bisa Rp 500 juta,” kata dia.
Padahal, di satu sisi, saat ini banyak petani di pesisir yang membutuhkan benih padi yang cocok ditanam di sawah yang telah terintrusi air asin. ”Pemerintah semestinya bisa membiayai berbagai uji lokasi. Selama ini dialog belum maksimal dengan pemerintah,” ujar Arif.
Arif mengatakan, akan mendorong kembali ide soal konsorsium riset pangan yang mewadahi pemerintah, akademisi, dan LSM. ”Konsorsium ini bisa menjadi wadah bagi peneliti untuk menyebarkan temuannya. Di sisi lain, petani bisa terus mengembangkan bank benih sehingga bisa menghasilkan benih unggul yang cocok untuk wilayahnya,” kata dia. (AIK)
Sumber:Kompas

- Program (Adaptasi) yang Tidak Pas
- Mangrove Penyimpan Karbon yang Tinggi
- Perubahan Iklim Jadi Kambing Hitam
- Russia, Turkey Climate Action Insufficient: EBRD
- Mangrove Hambat Perubahan Iklim
0 Comment :
Comment Form :







Visitor Today
Total Visitor
Online Visitor










