01 December 2011 - 05:38:31 WIBPerubahan iklim global kini juga menjadi masalah keamanan
Posted by : Administrator
Category: Other News - View : 222
Selasa, 29 November 2011 19:20 WIB
Paris (ANTARA News)
- Pernah hanya dipandang sebagai masalah kepentingan kaum hijau dan
akademisi saja, ancaman yang ditimbulkan perubahan iklim terhadap
keamanan kini dipandang dengan penuh keprihatinan oleh para politisi dan
kalangan pembesar pertahanan.
Kekeringan dan banjir yang
menghancurkan panenanan dan kenaikan muka laut yang membahayakan
kota-kota pantai akan menjadi pemicu kuat kelaparan, penyakit dan
ketunawismaan, yang pada gilirannya meningkatkan ketegangan dan mengarah
pada kerusuhan, kata para pakar, lapor AFP.
Sungguh, sejumlah orang mencurigai bahwa perubahan iklim sudah menjadi pendorong ergolakan yang tak kelihatan.
Konflik
di Darfur Sudan, yang disebabkan kekeringan luar biasa hingga
memiskinkan komunitas-komunitas penggembala dan memaksa mereka
bermigrasi, pernah disebut hanya sebagai sebuah ilustrasi bagi masalah
seperti itu.
Contoh lain mungkin revolusi tahun ini di Tunisia
dan Mesir, dimana harga makanan, didorong oleh gelombang panas yang
menghancurkan di negara-negara penghasil biji-bijian besar, meniup
kelaparan, dan kemudian kemarahan, diantara kaum miskin.
"Kejadian-kejadian
cuaca ekstrim terus meningkat lebih sering dan kuat di negara-negara
kaya maupun miskin, tidak hanya menghancurkan kehidupan namun juga
infrastruktur, institusi dan anggaran -- peristiwa keterlaluan yang
dapat menciptakan kevakuman keamanan yang berbahaya," kata Sekretaris
Jenderal PBB Ban Ki-moon Juli pada debat Dewan Keamanan.
Perubahan
iklim "tidak hanya memperburuk ancaman terhadap perdamaian dan keamanan
internasional namun benar-benar sudah menjadi ancaman bagi perdamaian
dan keamanan internasional," katanya.
Dalam Tinjauan Pertahanan
Empattahunan 2010-nya, Pentagon mengatakan perubahan iklim "dapat
mempunyai dampak geopolitis signifikan di seluruh dunia, menyumbangkan
kemiskinan, degradasi lingkungan dan lebih lanjut melemahkan
pemerintah-pemerintah yang rapuh."
"Sementara perubahan iklim
saja tidak menyebabkan konflik, ia mungkin bertindak sebagai pemercepat
instabilitas dan konflik," katanya.
Laksamana Muda Neil
Morisetti, seorang utusan iklim dan keamanan energi pada kementerian
pertahanan Inggris, mengatakan migrasi iklim menjadi satu dari sejumlah
faktor tersembunyi dalam persamaan ini.
"Apa yang terjadi
terhadap mereka yang kehilangan tanah atau yang kehilangan mata
pencaharian mereka?" kata Morisetti pada sebuah konferensi di London
bulan lalu.
"Jika mereka migrasi, apakah itu terencana,
terkoordinasi, migrasi yang dapat ditangani dalam sebuah negara atau
antar negara? Atau hal itu merupakan migrasi massal yang tak terencana
yang menyebabkan ketegangan?
"Jika mereka kehilangan mata
pencahariannya karena kenaikan muka laut, kenaikan suhu, kehilangan
hasil panenan, apakah mereka mendapatkan penghidupan yang sah untuk
menggantikannya? Atau apakah mereka rentan terhadap perekrutan kriminal,
pada akhirnya (menjadi) teroris AK-47 lima dolar sehari?"
Morisetti
mengatakan risiko terbesar berada "di wilayah ekuator, dimana kami
menyaksikan lagi konflik waktu demi waktu dalam 40 atau 50 tahun,
sebagian karena negara-negara itu dan pemerintah mereka tidak memiliki
kapasitas dan ketahanan untuk mengatasi tekanan-tekanan tersebut dan
memelihara populasi mereka."
Dalam sebuah makalah yang
diterbitkan bulan lalu oleh jurnal Sains AS, sebuah tim periset
internasional mengatakan "pemukiman kembali terkait-iklim" sudah
dijalankan di delta Mekong Vietnam, sepanjang Sungai Limpopo di
Mozambique, di Monggolia Dalam China, pantai Alaska dan Kepulauan
Carteret di Papua Nugini.
Seruan minta tolong untuk memastikan
migrasi adil dan tertib, mereka mendesakkan perubahan-perubahan pada
hukum nasional dan internasional dan keterlibatan komunitas-komunitas
yang terancam iklim dalam memutuskan dimana mereka akan kembali
ditempatkan.
Faktor-faktor lain di pertemuan buram antara iklim
dan keamanan adalah kesehatan -- terutama melalui ekspansi nyamuk-dan
penyakit yang terbawa air -- dan risiko kelaparan dan kemiskinan akibat
kenaikan harga makanan.
Gandum, jagung dan sorgum semuanya
mengalami kenaikan secara global selama 18 bulan terakhir, namun di
Tanjung Afrika yang dilanda kekeringan harganya terkadang berlipat ganda
bahkan tiga kali lipat dibanding rata-rata lima tahun.
Beras di Thailand dan Vietnam yang terkena banjir sekitar 25 persen lebih mahal daripada setahun lampau.
Pada
Februari, Bank Dunia mengestimasi 44 juta orang di ekonomi berkembang
merosot ke kemiskinan ekstrim akibat harga makanan yang terus naik.
"Bagi
kaum termiskin yang membelanjakan hingga 75 persen dari pendapatan
mereka untuk makan, kenaikan harga dalam skala ini bisa membawa
konsekuensi ketika keluarga dipaksa menerima kompromi yang tidak mungkin
dalam keputusasaan untuk memberi makan diri mereka sendiri," kata Oxfam
Senin pada awal pembicaraan iklim PBB di Durban, Afrika Selatan. (K004)
Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2011
Sumber:ANTARA

- CFC dulu "dipuja" namun kini digusur
- Menteri LH buka konferensi internasional perlindungan ozon
- Seed Maker Races For Crops As Climate Changes
- Emisi Karbon Capai Puncak, Suhu Bumi Memanas
- Climate Change Allows Invasive Weed to Outcompete Local Species
0 Comment :
Comment Form :








Visitor Today
Total Visitor
Online Visitor










