02 December 2011 - 00:52:40 WIBPresiden: delegasi iklim jangan lupakan kepentingan nasional
Posted by : Administrator
Category: Other News - View : 165
Kamis, 1 Desember 2011 20:35 WIB
Jakarta (ANTARA
News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan delegasi
Indonesia dalam pertemuan perubahan iklim di Durban, Afrika Selatan,
untuk tidak melupakan kepentingan nasional saat memperjuangkan
kepentingan global.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Negara di
Kantor Presiden, Jakarta, Kamis, saat menerima Ketua Harian Dewan
Nasional Perubahan Iklim (DNPI) Rachmat Witoelar dan Menteri Lingkungan
Hidup Balthasar Kambuaya, yang akan memimpin delegasi Indonesia di
Durban.
"Jangan lupa kepentingan nasional juga kita perjuangkan," kata Presiden.
Ia
mengatakan bahwa sekalipun Indonesia turut menjadi bagian dari solusi
global untuk menunjukkan keseriusan Indonesia dan memancing munculnya
kerja sama-kerja sama baru, kepentingan nasional tetaplah menjadi agenda
utama.
Lebih lanjut, Presiden juga meminta agar di antara anggota delegasi tidak ada perbedaan sikap.
"Perlu ada common position (bersikap sama,red), jangan sampai ada delegasi berbeda suara," katanya.
Ia
juga meminta agar selama proses perundingan berlangsung jika muncul
ide-ide baru diharapkan tidak "bertabrakan "dengan sikap bersama.
Presiden
menekankan keperluan untuk menjaga satu sikap bersama dan satu
pendekatan bersama dalam upaya memperjuangkan kepentingan nasional dan
mencari solusi global.
Sementara itu, publik luas berharap
Pertemuan di Durban, Afrika Selatan, pada awal Desember dapat memberikan
kepastian atas perpanjangan komitmen pengurangan emisi karbon global
dari Protokol Kyoto yang akan berakhir pada 2012.
Sejumlah
aktivis lingkungan bahkan menilai, pertemuan negara-negara pihak untuk
perubahan iklim (Conference on Parties) ke-17 di Durban, Afrika Selatan,
pada 28 November-9 Desember 2011, adalah kesempatan terakhir untuk
memberikan kepastian bagi masa depan rejim perubahan iklim.
Dalam
beberapa pertemuan terakhir terjadi perbedaan pendapat antara negara
maju dan berkembang. Negara-negara Uni Eropa bersedia melanjutkan
Protokol Kyoto hanya jika negara maju lain bersedia bergabung.
Tetapi
negara industri seperti Jepang, Rusia, dan Kanada menolak ikut komitmen
Uni Eropa, jika negara-negara berkembang tidak bersedia ikut.
Sementara,
negara-negara berkembang meminta suatu kesepakatan yang seimbang
sekaligus satu komitmen yang mengikat secara hukum (legally binding).
(T.G003/A011)
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © 2011
Sumber :ANTARA

- Qatar tuanrumah konferensi iklim PBB 2012
- Perubahan iklim global kini juga menjadi masalah keamanan
- CFC dulu "dipuja" namun kini digusur
- Menteri LH buka konferensi internasional perlindungan ozon
- Seed Maker Races For Crops As Climate Changes
0 Comment :
Comment Form :







Visitor Today
Total Visitor
Online Visitor










