|
|
![]() |
![]() |
|
||||||||||||||||||||||
|
|
|
||||||||||||||||||||||||
|
|
|
||||||||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||||
home | search
|
|
|
|||||||||||||||||||||||
|
15 Years of Pelangi | December-2007 Yayasan Pelangi Indonesia Pelangi has prepared a series of papers to celebrate 15 years of Pelangi's work. These papers are a result of three discussions involving various stakeholders covering Pelangi's working areas: climate change, energy, and transportation ![]()
Go to Spektrum >> Counter: 1 |
|
Catatan dari Bonn Climate Change Talks : Absennya Kemauan Politis untuk Bergerak Maju 20 April, 2009; 09:00 Jakarta, 20 April 2009 Negosiasi perubahan iklim yang berlangsung di Bonn, Jerman pada tanggal 29 Maret - 8 April 2009 lalu berakhir tanpa hasil yang signifikan, terutama karena belum disepakatinya target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) oleh negara maju setelah tahun 2012. Walaupun telah terjadi kemajuan di dalam negosiasi terkait rejim perubahan iklim pasca 2012, Pelangi Indonesia memandang bahwa hasil pembicaraan di Bonn belumlah optimal dan proses perundingan berjalan lambat, belum sesuai dengan kecepatan yang diperlukan untuk mencapai kesepakatan di COP15/CMP5 Kopenhagen bulan Desember 2009 nanti. Negosiasi dilakukan melalui dua jalur persidangan, yaitu Ad-Hoc Working Groups for Long Cooperative Action (AWG-LCA) dan Ad-Hoc Working Group on further commitments for Annex I Parties under the Kyoto Protocol (AWG-KP). Di dalam AWG-LCA, terjadi kemajuan mengenai beberapa topik tertentu, semisal tentang perlunya kerjasama teknologi serta pentingnya aktivitas penurunan emisi dari sektor kehutanan di negara berkembang. Hal ini menunjukkan bahwa negara-negara telah berhasil menciptakan atmosfer diskusi yang kondusif sehingga hasil yang dicapai dapat menjadi batu pijakan untuk diskusi selanjutnya. Sementara itu, persidangan AWG-KP menemui hambatan, khususnya terkait isu penting tentang penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) global. Sesuai dengan isi Protokol Kyoto, negara-negara maju memiliki kewajiban untuk menurunkan emisi GRK. Sejauh ini, target yang sudah disepakati adalah penurunan sebesar 5.2% (dari emisi tahun 1990) pada tahun 2012. Untuk penurunan emisi setelah tahun 2012, negara-negara maju peratifikasi Protokol Kyoto masih belum mau menyatakan seberapa besar target penurunan emisi GRK mereka sebelum ada kepastian tentang penurunan emisi oleh Amerika Serikat (negara maju yang belum meratifikasi Protokol Kyoto) serta negara-negara berkembang besar. Kejadian serupa berulang di dalam AWG-LCA, di mana terjadi perdebatan panjang terkait usaha stabilisasi konsentrasi dan penurunan emisi GRK di atmosfer. Negara-negara maju menyatakan bahwa negara-negara berkembang pun perlu menurunkan emisi gas rumah kacanya, terutama negara-negara yang sedang melakukan pembangunan serta memanfaatkan energi secara besar-besaran (semisal China dan India). Hal ini menimbulkan penolakan yang keras dari negara-negara berkembang tersebut, salah satunya karena negara maju belum menunjukkan keseriusannya untuk memberikan bantuan pendanaan bagi negara-negara berkembang, baik untuk yang ingin melakukan kegiatan mitigasi di dalam negeri maupun untuk yang terkena dampak perubahan iklim.
Pelangi Indonesia berpendapat bahwa hasil Bonn Climate Change Talks ini menyebabkan seluruh pihak harus bekerja dengan lebih keras lagi sehingga semua pilar bagi arsitektur pasca 2012 dapat disepakati pada proses-proses negosiasi berikutnya. Bonn Climate Change Talks sendiri merupakan proses pertama dari sekitar enam proses negosiasi pada tahun 2009 ini dan akan dilanjutkan dengan perundingan lanjutan di Bonn pada bulan Juni 2009.
Untuk mencapai kesepakatan global di Kopenhagen bulan Desember 2009 yang benar-benar bermanfaat bagi semua pihak di dalam menghadapi masalah perubahan iklim, Pelangi Indonesia menyerukan negara-negara maju untuk memperlihatkan kemauan dan kepemimpinan politis mereka di dalam memenuhi kewajiban mereka sesuai Protokol Kyoto dan BAP, termasuk dengan menetapkan target penurunan emisi gas rumah kaca yang ambisius serta memberikan dukungan pendanaan dan teknologi untuk aktivitas mitigasi dan adaptasi negara-negara berkembang. Di lain pihak, negara berkembang pun perlu berperan serta menunjukkan kemauan dan kepemimpinan politis untuk menerapkan BAP, antara lain dengan melakukan aksi-aksi sukarela di dalam negeri untuk menurunkan emisi GRK.
Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
AWG-LCA: Ad hoc Working Group on Long-term Cooperative Action adalah sebuah proses negosiasi di bawah Konvensi PBB tentang Perubahan Iklim yang dibentuk untuk membahas apa yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan utama Konvensi Bali Action Plan (BAP): merupakan kesepakatan pada Konferensi Iklim di Bali pada tahun 2007 yang mencantumkan berbagai pokok pembahasan negosiasi sampai periode komitmen pertama Protokol Kyoto berakhir pada tahun 2012 COP: Conference of the Parties adalah pertemuan negara-negara peratifikasi Konvensi PBB untuk perubahan iklim. CMP: Conference Conference of the Parties serving as the Meeting of the Parties adalah pertemuan negara-negara peratifikasi Protokol Kyoto Protokol Kyoto: perjanjian internasional mengenai kewajiban/komitmen negara-negara maju untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) dengan masa komitmen pertama pada tahun 2008 – 2012
- im
Other Press Releases:
|
|
||||||||||||||||||||||
| archive... | |||||||||||||||||||||||||
|
For more information, contact info@pelangi.or.id. For general purpose, please use pelangi@pelangi.or.id. Copyright © 2010 Pelangi Indonesia | All information contained on this site may not be used for commercial purposes. |
|||||||||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||