Ini Daerah Asal dan Sejarah Unik dibalik Kapal Pinisi

Kapal Pinisi adalah bukti sejarah dan kesaksian bisu kebesaran para pelaut Nusantara. Kapal ini tidak hanya memiliki armada yang kuat, tetapi juga memiliki konsep filosofi yang mendalam. Seperti yang dikatakan oleh peneliti dan sejarawan Von Heine Geldern, seperti istilah "nenek moyang saya adalah seorang pelaut", nenek moyang Indonesia datang ke nusantara sejak dini dengan kapal saudara.

Ungkapan ini memang benar, karena selama ini kapal-kapal tradisional legendaris negara kita masih bertahan dari peradaban modern. Saat ini kapal legendaris tersebut diberi nama Kapal Pinisi. Menurut tradisi setempat, pinisi berasal dari nama kapal Raja Tarot (I Manyingrang Dg Makkilo). Nama ini diambil dari dua kata, "Picuru" (artinya contoh yang baik) dan "Binisi" (Dinnis) adalah ikan kecil yang dikenal gesit dan tangguh.

Sumber lain menyebutkan bahwa pinisi berasal dari bahasa Bugis "Panisi" atau "Mappanisi" yang artinya menyisipkan. Istilah tersebut mengacu pada proses "lopi dipanisi", yang mengalami perubahan fonem menjadi pinisi.

Pinisi Dibuat Oleh Rombongan Putra Mahkota Kerajaan Luwu

Jika ditelusuri ke tempat yang lebih dalam, ada mitos lokal tentang sejarah kapal Pinisi. Berdasarkan naskah sastra Sera Babad La Lagaligo dari Luwu, Sawerigading yang dibuat oleh putra mahkota kerajaan. Di manuskrip itu terdapat cerita yang menjelaskan bahwa sosok Sawerigading berlayar ke Tiongkok. Tidak lebih dari bermigrasi dan melamar seorang putri Tiongkok bernama We Cudai.

foto kapal pinisi berlayar di lautan
foto kapal pinisi berlayar di lautan luas

Awalnya, perjalanan cinta Sawerigading berhasil hingga mencapai negara tujuan. Namun, saat hendak kembali ke Luwu, mereka dihantam badai dahsyat yang membelah kapal menjadi tiga bagian, menyebabkan penumpang terdampar di tiga wilayah berbeda yaitu Ara, Tanah Lemo, dan Bira.Di ketiga wilayah tersebut, pecahan kapal Sawerigading dirakit kembali menjadi kapal baru yang menjadi cikal bakal kapal Pinisi. Oleh karena itu, ketiga area ini dikenal sebagai tempat kelahiran kapal Pinisi.

Kapal Pinisi Merupakan Simbol Gotong Royong

Dalam mitologi lain, masyarakat Tanah Beru percaya bahwa legenda kapal Pinisi bermula ketika nenek moyang mereka membangun kapal besar untuk mengangkut barang dagangan dan memancing. Namun gelombang ombak dan badai menghancurkan kapal.

Seperti yang ada pada Sera Babad La Lagaligo, sebagian kapal terjebak di tiga area berbeda. Lambung kapal terdampar di Dusun Ara, sebagian layar di Tanjung Bira, dan isi kapalnya berserakan di Tanah Lemo.

Masyarakat sekitar meyakini kejadian ini merupakan pesan bahwa masyarakat di ketiga wilayah tersebut harus bekerja sama untuk menaklukkan lautan. Setiap penduduk di setiap daerah memiliki keterampilan yang unik dan saling menguntungkan. Ara sebagai pembuat kapal, Bira menguasai ilmu alam perbintangan, dan Lemo bertindak sebagai pengusaha pemberi modal. Sebab, selama ini masyarakat di tiga daerah itu memiliki persaudaraan yang kuat.

Proses Pembuatan Kapal Pinisi

Dalam proses pembuatannya, pemotongan kayu pertama dilakukan oleh nakhoda bernama Panrita Lopi. Uniknya, dari proses pembuatan hingga penyelesaiannya, tidak ditemukan paku yang biasa digunakan untuk tulangan bangunan di kapal ini. Mereka menggunakan serpihan kayu dari galangan kapal sebagai paku konstruksi.

Post a Comment

0 Comments